Selamat Datang

"Selamat datang di halaman MASA DEPANku.......sarana berbagi mengenai segala hal untuk meraih MIMPI MASA DEPAN"

Sabtu, 13 November 2010

kata-kata mUtiara

sudahKah Anda bertutuR Kata dengan LISAN yang benar?????????????????/
sudahkAH anda menata lisaN ANda ???????????

Impian Masa Depan

… Hanya mimpi dan keyakinan yang mampu membuat manusia berbeda dengan mahluk lainnya...

...Hanya mimpi dan keyakinan yang membuat manusia sangat istimewa di mata Sang Pencipta.....

.....Dan, yang bisa dilakukan oleh sebuah mahluk yang bernama manusia terhadap mimi-mimpi dan keyakinannya mereka hanya tinggal mempercayainya!.....

Sejarah Suku Using

Sejarah Suku Using diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. Perang saudara dan Pertumbuhan kerajaan-kerajaan islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. Setelah kejatuhannya, orang-orang majapahit mengungsi ke beberapa tempat, yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger), Blambangan (Suku Using) dan Bali. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Using yang masih menyiratkan budaya Majapahit.

Kerajaan Blambangan, yang didirikan oleh masyarakat Using, adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu-Budha seperti halnya kerajaan Majapahit. Bahkan Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram.Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan, hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Using mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa, termasuk halnya tentang bahasa.

Suku Using mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali, hal ini sangat terlihat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan dengan tari-tari tradisional bali lainnya, termasuk juga busana tari dan instrumen musiknya. Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Using dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan, terutama pada hiasan di bagian atap bangunan.
Jumlah dan Wilayah Persebaran.

Jumlah penduduk asli Banyuwangi yang acap disebut sebagai "Lare Using" ini diperkirakan mencapai 500 ribu jiwa dan secara otomatis menjadi pendukung tutur Bahasa Jawa Using ini. Penutur Bahasa Jawa-Osing ini tersebar terutama di wilayah tengah kabupaten Banyuwangi, terutama kecamatan-kecamatan sebagai berikut :
• Kabat
• Rogojampi
• Glagah
• Kalipuro
• Srono
• Songgon
• Cluring
• Giri
• sebagian kota Banyuwangi
• Gambiran
• Singojuruh
• sebagian Genteng
• Licin
Sedangkan wilayah lainnya adalah wilayah tutur campuran baik Bahasa Jawa ataupun Bahasa Madura. Selain di Banyuwangi, penutur bahasa ini juga dapat dijumpai di wilayah kabupaten Jember, terutama di Dusun Krajan Timur, Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan, Jember. Namun dialek Osing di wilayah Jember ini telah banyak terpengaruh bahasa Jawa dan Madura disamping dikarenakan keterisolasiannya dari daerah Using di Banyuwangi.

Sistem Pengucapan atau Fonologi
Bahasa Jawa Using mempunyai keunikan dalam sistem pelafalannya, antara lain:
Adanya diftong [ai] untuk vokal [i] : semua leksikon berakhiran "i" pada bahasa Jawa Osing khususnya Banyuwangi selalu terlafal "ai". Seperti misalnya "geni" terbaca "genai", "bengi" terbaca "bengai", "gedigi" (begini) terbaca "gedigai".
Adanya diftong [au] untuk vokal [u]: leksikon berakhiran "u" hampir selalu terbaca "au". Seperti "gedigu" (begitu) terbaca "gedigau", "asu" terbaca "asau", "awu" terbaca "awau".
Lafal konsonan [k] untuk konsonan [q]. Di Bahasa Jawa, terutama pada leksikon berakhiran huruf "k" selalu dilafalkan dengan glottal "q". Sedangkan di Bahasa Jawa Osing, justru tetap terbaca "k" yang artinya konsonan hambat velar. antara lain "apik" terbaca "apiK", "manuk", terbaca "manuK" dan seterusnya.
Konsonan glotal [q] yang di Bahasa Jawa justru tidak ada seperti kata [piro'], [kiwo'] dan demikian seterusnya. Palatalisasi [y]. Dalam Bahasa Jawa Osing, kerap muncul pada leksikon yang mengandung [ba], [pa], [da], [wa]. Seperti "bapak" dilafalkan "byapak", "uwak" dilafalkan "uwyak", "embah" dilafalkan "embyah", "Banyuwangi" dilafalkan "byanyuwangai", "dhawuk" dibaca "dyawuk".
Varian Bahasa Using
Bahasa Jawa Using mempunyai banyak kesamaan dan memiliki kosakata Bahasa Jawa Kuna yang masih tertinggal. Namun di wilayah Banyuwangi sendiri terdapat variasi penggunaan dan kekunaan juga terlihat disitu. Varian yang dianggap Kunoan terdapat utamanya diwilayah "Giri","Glagah" dan "Licin", dimana bahasa Using disana masih dianggap murni. Perbedaaan variasi bahasa using tergantung letak wilayahnya. Karena banyak juga terdapat perbedaan yang sangat jauh walaupun letak daerahnya berdekatan. Misalkan bahasa using di wilayah Rogojampi berbeda dalam fonologinya dengan wilayah lain, yaitu selalu menggunakan akhiran “o” dalam setiap akhir kata. Sebagai contoh adalah “isun mari madhyang’o” yang bagi masyarakat Rogojampi dianggap sebagai lafal pembeda dari using yang lainnya. Hal ini terjadi karena interaksi dengan orang-orang Cina dan Arab yang banyak hidup berdampingan dengan orang Using di wilayah Rogojampi. Meskipun begitu sebagai sesama orang Using akan saling mengerti maksud kata-kata dari tiap lafal yang berbeda tersebut.
Gaya Penggunaan Bahasa
Di kalangan masyarakat Using, dikenal dua gaya bahasa yang satu sama lain ternyata tidak saling berhubungan. Yakni Cara Using dan Cara Besiki. Cara Osing adalah gaya bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak mengenal bentuk Ngoko-Krama seperti layaknya Bahasa Jawa umumnya. Yang menjadi pembedanya adalah pronomina yang disesuaikan dengan kedudukan lawan bicara, misalnya :
Siro wis madhyang? = kamu sudah makan?
Riko wis madhyang? = anda sudah makan?
Sedangkan Cara Besiki adalah bentuk "Jawa Halus" yang dianggap sebagai bentuk wicara ideal. akan tetapi penggunaannya tidak seperti halnya masyarakat Jawa, Cara Besiki ini hanya dipergunakan untuk kondisi-kondisi khusus yang bersifat keagamaan dan ritual, selain halnya untuk acara pertemuan menjelang perkawinan.
Kosakata
Kosakata Bahasa Jawa Using berakar langsung dari bahasa Jawa Kuna, dimana banyak kata-kata kuna masih ditemukan disana, disamping itu, pengaruh Bahasa Bali juga sedikit signifikan terlihat dalam bahasa ini. Seperti kosakata sing (tidak) dan bojog (monyet).
Pengaruh Bahasa Inggris juga masuk kedalam bahasa ini melalui para tuan tanah yang pernah tinggal dikawasan tersebut, seperti dalam kata :
• Sulung dari kata so long namun bermakna duluan
• Nagud dari kata no good bermakna jelek
• Ngepos dari kata pause bermakna berhenti
• Kekel dari kata cackle bermakna tertawa terpingkal-pingkal
Longdres dari kata long dress bermakna daster.

Sumber: RogojambiFacebooker.